Resep

Hukum Menolak Perjodohan Orangtua Dalam Islam

Perjodohan adalah salah satu cara yang ditempuh masyarakat dalam mengupayakan pernikahan. Perjodohan mungkin terdengar sebagai sesuatu yang kuno dan jauh dari kesan moderen.

Sebagaimana kisah Siti Nurbaya gadis muda belia yang rupawan yang di jodohkan dengan Datuk Maringgi seorang yang lebih patut dipanggil kakek namun terkenal kaya raya, membuat asusmsi orang tentang perjodohan cenderung berkiblat pada kisah ini.

Padahal perjodohan adalah satu satu langkah untuk menjajaki sebuah hubungan menuju pernikahan.

Tak ada ketentuan dalam syariat yang mengharuskan atau sebaliknya melarang perjodohan. Islam hanya menekankan bahwa hendaknya seorang Muslim mencari calon istri yang shalihah dan baik agamanya. Begitu pula sebaliknya.

Allah mensyariatkan untuk menikahlah dengan insan yang kau senangi. Pernikahan dalam islam merupakan nikmat Allah yang patur disyukuri, karena dengan menikah kita mendapatkan kemanfaatan yang luar biasa.

“Maka kawinilah perempuan-perempuan (lain) yang kamu senangi” (QS. Annisa: 3)

Perjodohan hanyalah salah satu cara untuk menikahkan. Orang tua dapat menjodohkan anaknya , namun diucapaykan untuk meminta izin dan persetujuan dari anaknya, agar pernikahan yang diselenggarakan berdasarkan dua belah pihak.

Menikah bukan karena keterpaksaan, karena pernikahan yang dibangun di atas dasar keterpaksaan, jika terus berlanjut berpotensi mengganggu keharmonisan rumah tangga.

Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا تُنْكَحُ الْأَيِّمُ حَتَّى تُسْتأمَر وَلَا تُنْكَحُ‏ الْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ‏ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ إِذْنُهَا قَالَ أَن تسكت ‎ ‎ ‎ ‏‎ ‎ ‎

“Tidak boleh menikahkan seorang janda sebelum dimusyawarahkan dengannya dan tidak boleh menikahkan anak gadis (perawan) sebelum meminta izin darinya.” Mereka bertanya, “wahai Rasulullah, bagaimana mengetahui izinnya?” Beliau menjawab, “dengan ia diam.” (HR. Al-Bukhari no. 5136 dan Muslim no. 1419)

Di antara kemuliaan yang Allah yang diberikan kepada kaum perempuan setelah datang Islam adalah bahwa mereka mempunyai hak penuh dalam menerima atau menolak suatu lamaran atau pernikahan.

Hak ini tidak dimiliki oleh kaum perempuan di zaman jahiliah. Sehingga setelah datangnya islam, tidak boleh bagi wali perempuan mana pun memaksa perempuan yang dia walikan untuk menikahi lelaki yang tidak disenangi.

Lantas berdosakah seorang anak yang menolak perjodohan orang tuanya dan apakah anak tersebut dikatakan durhaka karena penolakannya?

وعن ابن عباس رضي الله عنهما “أن جارية بكرا أتت النبي صلى الله عليه وسلم فذكرت أن أباها زوجها وهي كارهة فخيرها رسول الله صلى الله عليه وسلم” رواه أحمد وأبو داود وابن ماجه

Dari sahabat Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma, beliau berkata: Telah datang seorang gadis muda terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ia mengadu bahwa ayahnya telah menikahkanya dengan laki-laki yang tidak ia cintai, maka Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam memberikan pilihan kepadanya (melanjutkan pernikahan atau berpisah). (HR. Ahmad, Abu Daud dan Ibnu Majah).

Menurut hadist diatas bahwa diperbolehkan seorang anak menolak perjodohan dan penolakannya tersebut tidak berdosa dan tidak dikategorikan sebagai sikap durhaka. Selama penolakan tersebut dilakukan dengan cara yang baik dan tidak menyakiti perasaan orang tuanya.

Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الثَّيِّبُ أَحَقُّ‏‎ ‎بِنَفْسِهَا مِنْ وَلِيِّهَا‎ ‎وَالْبِكْرُ يَسْتَأْذِنُهَا‎ ‎أَبُوهَا فِي نَفْسِهَا‎ ‎وَإِذْنُهَا صُمَاتُهَا

“Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan perawan maka ayahnya harus meminta persetujuan dari dirinya. Dan persetujuannya adalah diamnya.” (HR. Muslim no. 1421)

Hukum pernikahan dalam Islam yang sesuai dengan syariat adalah dengan adanya keridhaan dari kedua calon mempelai.

Jelas sudah salah satu tak ridha, atau nikah dengan terpaksa maka pernikahan tersebut tidak sesuai syariat Islam dan dilarang dalam syariat.

Syaikh Abdurrahamn as-Sa’di memaparkan dalam Almajmu’ah Alkamilah li Muallafat bahwa tidak boleh bagi orangtua memaksa anak perempuan menikah, meski keduanya ridha dengan keadaan agama dari lelaki tersebut. [bincangsyariah.com]

Tags

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button