Sakaratul Maut Paling Ringan Saja Seperti Ini

Mungkin hal yang paling ditakuti oleh manusia adalah kematian namun jutsru kematian itu jaraknya sangat dekat dengan kita. Kita tidak pernah tahu kapan kita akan meninggalkan sebab yang namanya maut itu adalah hak prioritas Allah. Beberapa orang sangat sulit menghadapinya bahkan terasa sangat menyakitkan namun ada pula yangkematiannya mudah. Manusia yang paling mudah meninggalnya adalah Nabi Musa As. Suatu hari Malaikat Israil mendatangi Nabi Musa serta bertanya“Wahai Malaikat Maut, apakah engkau datang untuk mencabut nyawaku?”

Izrail menjawab “Iya, aku datang untuk mencabut nyawamu”

Musa kembali bertanya “ Bisakah engkau memberiku waktu untuk mengucapkan kata perpisahan kepada keluargaku?” Izrail menjawab “Tidak ada kesempatan untuk itu”

Kemudian Nabi Musa pun bersujud serta berdoa kepada Allah untuk meminta waktu sebentar saja untuk menyampaikan ucapan perpisahannya kepada keluarganya. Allah pun memberi perintah kepada Malaikat Izrail untuk memberi kesempatan kepada Nabi Musa. Akhirnya Nabi Musa pun bergegas menemui Ibunya seraya berkata “Bu, sebentar lagi saya akan melakukan Safar”. Ibunya bertanya “apa itu Safar?” Musa menjawab “Perjalanan ke Akhirat”. dan Ibunya pun menangis.

Nabi Musa juga mendatangi istri serta anaknya untuk mengucapan kata perpisahan kepada Istrinya, istri dan anaknya pun menangis tak tertahan dan Nabi Musa pun ikut menangis juga.

Musa mendatangi anak dan istrinya. Ia mengucapkan perpisahan kepada istrinya. Anak istrinya pun menangis. Tak terasa Nabi Musa pun menangis juga.

Loading…

Allah pun berfirman “Hai Musa, lepaskan hatimu dari mereka. biarkan aku menjaga mereka. Biarkan aku mengurus mereka dengan kecintaan-Ku” Barulah nabi Musa menjadi tenang.

Musa bertanya kepada Malaikat Izrail. “Dari mana kamu akan mencabut nyawaku?” Izarail menjawab “Dari mulutmu”. Musa menjawab “Apakah engkau akan mengambil nyawa lewat mulut yang suka bermunajat kepada Tuhannya”

Izarail menjawab “Kalau begitu, Lewat tanganmu” Musa kembali bertanya “Apakah engkau mau mengambil nyawaku lewat tangan yang pernah membawa lembaran-lembaran taurat?”

Izrail menjawab “ Kalau begitu, lewat kakimu” Musa bertanya lagi “ Apakah kau mau mencabut nyawa leat kaki-kaki yang pernah berjalan menuju Thur untuk bermunajat kepada Tuhan?”

Izrail pun kemudian memberikan jeruk yang harum untuk Musa untuk dihirup aromanya dan Nabi Musa pun menghembuskan nafas terakhir.

Para malaikat yang menyambut beliau bertanya “Ya, ahwanal anbiya mautan kaifa wajadta al-maut? Hai nabi yang paling ringan kematiannya, bagaimana rasanya kematian yang paling ringan itu?”
Nabi Musa menjawab “Kasy syatin tuslakhu wa hiya hayyatan. Seperti kambing yang dikuliti hidup-hidup”.

Demikianlah kisah Nabi Musa yang paling mudah ketika melalui sakarotul maut paling ringan, namun tetap saja ternyata begitu menyakitkan. Semoga kita termasuk orang yang melalui sakarotul maut dengan mudah AAMIIN. [kaskus.co.id]

Artikel Lainnya:
loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.