Lakukan 3 Hal Ini Untuk Menebus Dosa Ghibah

Ghibah adalah menyebut orang lain tentang hal yang tidak ia senangi. Baik yang disebut adalah sisi baiknya atau negatifnya, fisiknya bahkan pemikirannya. Imam Nawawi dalam kitabnya, Al-Adzkar hal. 298 mendefinisikan ghibah sebagai berikut,

ذكرك الانسان بما فيه مما يكره سواء كان في بدنه او دينه او دنياه او نفسه او خلقه او خلقه او غير ذلك مما يتعلق به

Dzikrukal insana bima fihi mimma yakrahu sawaun kana fi badanihi au dinihi au dunyahu au nahsihu au kholqihi au khuluqihi au ghairu dzalika.

Ghibah adalah membicarakan orang lain tentang sesuatu yang tidak ia sukai, baik dari agamanya, duniawainya, fisiknya, psikisnya, wataknya, perawakannya dan juga hal lainnya yang berkatian dengan mereka.

Maksiat lisan salah satunya adalah ghibah. Sebab ghibah adalah salah satu dosa yang berhubungan dengan manusia atau yang disebut dengan haqqul adami.
Artinya: selama ia tidak meminta maaf kepada yang bersngkutan maka dosanya tidak akan diampuni oleh Allah SWT. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Hujurat (49) : 12,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ

Loading…

Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.

Imam Jalaluddin As-Suyuthi Dalam Tafsir Jalalain Juz 2/hal. 424, menjelaskan bahwa orang yang ghibah diibaratkan sebagai orang yang memakan bangkai sudaranya sendiri semasa hidupnya. Menurut belia, ghibah itu adalah membicarakan orang lain tentang sesuatu yang dibenci walau hal tersebut adalah fakta. Dari saking besar dosa ghibah ia menafsirkan akhir hayatnya dengan diperintahkan untuk takut ghibah dengan cara bertaubat.

Lalu, bagaimana cara bertaubat dai dosa ghibah? apakah bisa dihapus dengan membaca istighfar? atau haruskah kita berterus terang pada orang yang kita bicarakan?

Sebagaimana yang disebutkan diatas, sebagaimana ghibah itu berhubungan dengan manusia maka selain bertaubat dengan cara menyesal, berjanji tidak mengulangi lagi maka selain itu ia wajib minta maaf kepada yang bersangkutan. Bagaimana cara meminta maaf? Apakah dengan cara menjelaskan secara detail atau dengan cara bagaimana?

Imam Nawawi menyebutkan bagaimana cara meminta maaf kepada orang yang sudah di ghibah.
Pertama: Jelaskan Kepadanya Bahwa Kita Pernah Mengunjingnya
Kedua: Cukup Dengan Meminta Maaf Tanpa Harus Menjelaskan Bahwa Anda Pernah Mengunjingnya Sebab Ghibah Bukanlah Hutang yang Tak Perlu Dijelaskan

Akan tetapi yang paling disepakati oleh ashabus syafi’ie menyepakati yang pertama. Karena sebagai manusia bisa memafkan ghibah akan tetapi tidak bisa memaafkan hal lainnya.

Lalu bagaimana jika yang digosipin sudah meningga? Bagaimana cara kita meminta maaf kepadanya?
Dengan meninggalnya orang yang kita ghibah maka tertutuplah jalan untuk meminta maaf kepadanya. Sehingga para ulama mengajarkan kita untuk senantiasa memperbanyak istighfar dan doa yang dikhususkan kepada orang yang kita kunjung sebagai pengganti permintaan maaf dari kita. Karena dengan seperti itu Insya Allah dosa ghibah kita akan diampuni.

Maka dari itu, jagalah diri kita, lisan kita dari menyakiti orang lain baik secara langung dan tidak langsung. [bincangsyariah.com]

Artikel Lainnya:
loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.